Menerbitkan buku menjadi impian bagi siapa saja yang mempunyai passion dalam dunia tulis-menulis. Namun tentu saja hal itu tidaklah mudah, bakat saja tidak cukup. Dibutuhkan kerja keras dan komitmen untuk mau menulis dalam jangka waktu yang tidak sebentar.

 

Setelah buku kita selesai kita tulis, diedit sana-sini hingga akhirnya berupa naskah final maka yang harus dilakukan agar buku tersebut tak hanya kita saja yang membacanya adalah menerbitkannya.

Kita punya dua pilihan, mengajukannya pada penerbit atau menerbitkannya sendiri atau lebih keren disebut jalur indie. Tentu saja keduanya mempunyai kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Kami akan membandingkan kedua jalur tersebut dari beberapa segi berikut ini:
1.    Idealisme
2.    Waktu
3.    Biaya
4.    Promosi dan Penjualan
5.    Royalti

Baiklah mari kita bahas satu per satu.

1.    Idealisme
Setiap orang tentu mempunyai idealisme sendiri-sendiri, apalagi penulis. Yang namanya idelalisme di dalam berkarya itu benar-benar nomer satu. Tetapi ketika kita memutuskan untuk menerbitkan buku kita pada jalur major label maka kita harus bisa fleksibel dan mau mengalah sedikit kalau ingin buku kita terbit. Penerbit tidak akan mau menunduk-nunduk menuruti idealisme kita. Kalau tidak mau kompromi ya sudah silahkan cari penerbit lain, masih banyak penulis lain yang mengantri untuk kami terbitkan bukunya.

Tapi bukan berarti kita harus jadi penulis gampangan, yang mau disetir begitu saja oleh permintaan penerbit maupun selera pasar. Jika memang tidak cocok, masih banyak penerbit lain yang bisa dicoba dan mempunyai kesamaan idealisme.

Namun jika kita tak kunjung menemukan penerbit yang cocok, sementara kita masih ingin menerbitkan buku kita maka jalur indie adalah jawabannya. Di jalur ini kita bisa menulis buku sesuka kita, sesuai dengan idealisme yang kita anut. Tak ada yang bisa mengusik dan mengatur-ngatur apa yang harus kita tulis, kita bebas menentukan seperti apa karya itu akan tampil di depan pembaca.

2.    Waktu
Yang kami maksudkan di sini adalah kapan buku kita bisa segera terbit. Jika kita mengajukan kepada penerbit maka kita harus bersabar menunggu karena tiap hari naskah buku yang masuk ke meja penerbit itu banyak sekali. Untuk penerbit besar yang sudah punya nama, minimal kita harus menunggu tiga bulan. Itupun belum tentu naskah kita lolos. Kalau beruntung bisa diterbitkan, kadang masih disuruh mengedit di beberapa bagian, kalau tidak ya langsung ditolak mentah-mentah. Kenapa saya menyebutnya beruntung? Karena bisa saja kita menganggap naskah A lebih baik dari naskah B, namun ternyata yang dipilih oleh penerbit adalah naskah B. Banyak sekali pertimbangan yang dipakai oleh penerbit untuk meloloskan sebuah naskah buku, misalnya nilai jual buku, ke-up date-an dari isi buku, manfaat bagi pembaca dan masih banyak lagi lainnya.

Nah kalau kita menerbitkannya sendiri, kita tak perlu menunggu selama itu. Kapan pun kita mau kita bisa langsung menerbitkan buku kita. Apalagi sekarang ini sudah banyak sekali penerbitan indie yang bermunculan, tinggal gugling aja di internet kita sudah bisa menemukan banyak sekali pilihan. Tak ada seleksi naskah, apapun jenis naskah kita pasti akan bisa diterbitkan.

Tapi bukan berarti kita bisa sembarangan memilih penerbit indie. Harus kita tanyakan bagaimana prosedur dan hal-hal teknis lainnya. Atau kalau mau yang lebih objektif kita bertanya dulu pada penulis yang sudah pernah memakai jasa penerbit tersebut.

3.    Biaya
Jika buku kita diterbitkan oleh penerbit major maka kita tak perlu mengeluarkan biaya sepeser pun. Semua biaya mulai dari editing, layout, pembuatan cover hingga pencetakan ditanggung oleh mereka. Kita tinggal menunggu hasilnya di rumah. Malah nanti kita akan mendapatkan beberapa eksemplar sebagai bukti tanda cetak, kalau saya dulu 10 eksemplar.

Kalau memilih indie, maka semua biaya yang saya sebutkan di atas harus kita tanggung sendiri tentunya. Kalau mau berhemat, untuk editing dan cover bisa kita lakukan sendiri, makanya meski tak ada salahnya kita belajar mendesain cover jika ada waktu luang.

Untuk jumlah buku yang dicetak, jika di penerbit besar minimal buku kita dicetak 3000 eksemplar. Sedangkan di jalur indie terserah kita mau dicetak berapa, yang pasti semakin banyak jumlahnya maka semakin murah ongkos produksinya. Ini nanti berpengaruh pada harga jual buku kita di pasaran. Jangan kuatir, penerbit-penerbit indie mau melayani pencetakan sesuai dengan keinginan dan kemampuan kita. Malah ada yang memakai sistem print on demand, ini tentu jauh lebih hemat.

4.    Promosi dan Penjualan.
Untuk penerbit yang profesional tentunya sudah mempunyai program promosi dan penjualan untuk buku-buku yang mereka terbitkan. Tapi biasanya sih itu lebih diprioritaskan bagi penulis yang sudah punya nama, program promosinya dimulai dari launching buku dan jadwal bedah buku di beberapa kota. Untuk penulis pemula, apalagi yang di daerah harus legowo jika tak mendapatkan perlakuan istimewa seperti itu. Sudah bisa diterbitkan saja itu udah bersyukur banget.

Untuk penjualan, tidak ada pembedaan antara penulis yang ternama dan pemula. Jika penerbitnya mempunyai distributor di seluruh Indonesia maka buku kita pun pasti juga akan mudah didapatkan.

Lain lagi ceritanya jika menerbitkan secara indie, yang pasti perjuangannya jauh lebih berat. Kita harus merancang sendiri promosi dan cara penjualan buku kita.
Agar lebih efektif maka kita harus melakukan promosi baik itu dunia maya maupun nyata.
Untuk di dunia maya, kita bisa memanfaatkan jejaring sosial seperti Multiply, Facebook atau Twitter. Misalnya kita membuat situs untuk novel kita, membuat kuis dengan hadiah novel kita. Cara ini bisa membantu memperkenalkan karya kita ke hadapan publik.
Bisa juga kita menitipkan buku ke toko buku on-line dengan perjanjian tertentu. Biasanya sih sama dengan sistem konsinyasi dengan toko buku konvensional yaitu pihak toko buku on-line meminta potongan harga sekian persen.

Sedangkan di dunia nyata, kita bisa berpromosi dengan mencetak poster atau leaflet yang kita sebarkan di tempat-tempat yang strategis.
Jika buku yang kita cetak banyak, kita bisa bekerja sama dengan distributor. Namun perlu disiasati dalam menentukan harga di hadapan distributor karena biasanya mereka meminta potongan hingga 55 persen.

5.    Royalti
Jika menerbitkan buku melalui penerbit major maka besar royalti yang kita terima ditentukan oleh mereka. Untuk penulis pemula biasanya mendapatkan royalti antara 7-10 persen dari harga buku. Jadi misalnya harga buku kita Rp.20.000,- maka kita mendapatkan royalti tiap buku sebesar Rp.2000,-. Ada uang muka yang akan kita terima di awal perjanjian penerbitan dan setiap tiga bulan kita mendapatkan laporan penjualan dari penerbit.

Ada juga sistem jual putus, jadi naskah kita langsung dibeli di muka oleh penerbit. Keuntungan dari sistem ini kita tak perlu pusing memikirkan buku kita laku atau tidak di pasaran. Sedangkan kerugiannya adalah saat buku kita laris dan dicetak ulang kita tidak akan mendapat apa-apa lagi. Tiap penerbit mempunyai sistemnya sendiri-sendiri, kita sebagai penulis harus pandai-pandai memilih juga. Jangan sampai kita dirugikan oleh penerbit nakal yang hanya mau mengeruk keuntungan dari kita.

Untuk jalur indie, maka besar royalti bisa kita tentukan sendiri sesuai keinginan kita. Tapi bukan berarti kita bisa sesuka kita menentukannya karena besar royalti akan berpengaruh pada harga jual buku. Belum lagi ada juga penerbitan indie yang meminta ‘jatah’ atas jasa mereka, biasanya ini pada penerbitan indie yang memakai sistem print on demand. Besarnya ‘jatah’ biasanya sama dengan royalti yang kita tentukan.

Terakhir neh, mau menerbitkan lewat jalur major ataupun indie, itu semua tergantung pilihan masing-masing. Yang paling penting jangan pernah menyerah atau berhenti untuk menulis. Kita tidak pernah tahu seberapa besar pengaruh tulisan kita, bisa saja tulisan yang kita anggap biasa saja ternyata bisa memberikan inspirasi bagi orang lain yang membacanya.

Hidup kita di dunia ini hanya sementara, tapi karya kita akan tetap abadi meski jasad kita sudah hancur di dalam tanah.

Salam Mozaik..!!

About Mr. Moz

Berjiwa muda dan semangat dalam berkarya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s