Saya masih ingat, malam itu ketika pulang menjemput mantan pacar (yang kini jadi istri saya) pikiran saya dipenuhi dengan pencarian sebuah nama yang akan saya pakai untuk penerbitan indie yang akan saya dirikan. Sempat terpikirkan untuk memakai nickname saya yaitu Ehone namun untunglah saya sadar kenarsisan ini tidak boleh dibiarkan terus menjadi. Mungkin bagi saya keren mendengar nama Ehone Publishing tapi belum tentu orang lain berpikiran yang sama.

Apalagi saya bermimpi (besar) penerbitan ini nantinya akan menjadi besar, bukan hanya sekedar besar namun mampu mewadahi semua naskah dan menimbulkan self belonging bagi siapa saja yang pernah berhubungan dengan kami nantinya, entah itu penulis, pembaca maupun klien.

Nama Mozaik tidak muncul begitu saja. Beberapa bulan sebelumnya saya mengganti tagline blog saya yang semula: The Dark Phoenix Flying In The Blue Sky (tsaaah keren banget yak :P) menjadi Mozaik Kehidupan Dalam Lembaran Maya. Pergantian ini didorong oleh kesadaran dari dalam diri sendiri untuk mulai mengubah gaya tulisan yang menjadi lebih dewasa dan serius. Agar pergantian ini lebih mudah terealisasi saya sengaja memberikan tag Mozaik di awal judul setiap tulisan saya. Untuk tulisan yang personal saya menamainya: Mozaik Diri. Tulisan yang menceritakan perjuangan Ibu untuk sembuh dari stroke saya beri tag: Mozaik Ibu. Tag Mozaik ini makin lama makin banyak, mulai dari Mozaik Cinta hingga Mozaik Zuka-Zuka.

Dari situlah saya dapat wangsit, kenapa nggak memakai nama Mozaik aja? Apalagi secara leterlek atau harfiah, nama Mozaik sangat mewakili mimpi saya tentang sebuah penerbitan yang bisa mewadahi semua jenis naskah dan penulis dari mana saja.

Akhirnya Bismillahirohmanirrohim, pada tanggal 16 Februari 2012 saya meniatkan dan memantapkan dalam hati mendirikan sebuah penerbitan indie dengan nama: Mozaik Publishing House.

 

Jika ditanya apa sih yang menjadi pemicu saya untuk mendirikan sebuah penerbitan indie? Maka akan sangat panjang jawabannya. Namun baiklah, akan saya coba rangkum menjadi lebih ringkas.

Passion saya di dunia tulis-menulis. Cinta saya pada dunia literasi sudah mentok, tak ada hal lain yang mampu menandingi kebahagiaan dan kepuasan batin yang saya dapatkan dari menulis. Rasanya ada yang kurang bila sehari saja tak menulis. Menulis bagi saya sudah seperti terapi jiwa, apalagi jika sedang mempunyai masalah. Saya bisa berlembar-lembar mencurahkan isi hati saya biar lega dan plong. Dari situlah terpatri sebuah asa, bahwa saya ingin bisa terus menulis hingga nafas ini berhenti berhembus. Saya ingin hidup dan mati di dalam dunia menulis. Titik!

Hal lain yang memicu saya untuk terjun di jalur indie adalah melihat keberhasilan idola dan teman-teman di penerbitan indie yang di mata saya itu udah keren banget. Mungkin ini sisi positifnya rasa iri, saya ingin sukses seperti mereka. Kalau mereka bisa, kenapa saya tidak?

Prinsip hidup: lebih baik gagal tapi sudah pernah mencoba daripada menyesal karena tidak pernah mencoba juga menjadi cambuk bagi saya untuk segera merealisasikan cita-cita saya untuk memiliki sebuah penerbitan sendiri.

Untuk memulai sebuah usaha, tentunya harus mempunyai modal dan persiapan.

Secara materi, modal saya kecil. Apalagi saat itu kondisi keuangan juga lumayan terkuras untuk pengobatan ibu dan mempersiapkan pernikahan jadi saya tidak bisa sembarangan menggunakan tabungan saya. Kalau dipikir-pikir kok saya bisa nekat memulai usaha di saat genting seperti itu ya? Itulah kebesaran Allah, kalau hati kita sudah digerakkan ke satu tujuan maka tak ada yang mampu menghalanginya. Selain modal materi, kemampuan menulis menjadi modal utama saya. Lalu pengalaman menerbitkan indie sebelumnya, jaringan yang boleh dibilang cukup luas di blog membuat saya makin mantab memulai langkah pertama sebagai penerbit.

Lalu apakah langkah Mozaik berjalan mulus dan tanpa halangan? Trus kenapa nama kami sekarang menjadi Mozaik Indie Publisher? Nantikan jawabannya di blog selanjutnya ya.

Salam Literasi

 

Mr.Moz

 

 

 

About Mr. Moz

Berjiwa muda dan semangat dalam berkarya

16 responses »

  1. tinsyam says:

    sekarang pake salam literasi.. artinya salam apa tuh mr.moz?

  2. Larasati says:

    aku ndak ikutan yg ini😦

  3. faziazen says:

    modal yang paling penting adalah kepercayaan
    dan jaringan pertemanan yang luas

    semangat wirausaha !

  4. Dee An says:

    keren, Mr. Moz.. bekerja sesuai passion🙂
    sukses terus yaaa…..

  5. semoga nama mozaik membawa berkah. Oya, IBF 2013 sudah dimulai. Dapatkan buku Love Journey di stand BSMI ya.IBF berlangsung dari 1 Maret s/d 10 Maret. Pada tanggal 10 Maret adaacara khsusus BSMI di ruang anggrek. Kunjungi yaaa

  6. Ruthadaning says:

    Saya suka prinsipmu Mr. Moz…
    Terus berjuang mengukir kesuksesan #gandengan
    Saya akan bantu #cieee

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s