Okey mari kita lanjutkan kilas balik Setahun Perjalanan Mozaik.

Tiga bulan pertama adalah ujian bagi komitmen kami dalam menjalankan Mozaik Indie Publisher. Ada beberapa ujian yang sempat datang, antara lain:

1. Belum adanya klien yang mempercayakan naskahnya untuk diterbitkan di Mozaik. Wajar juga sebenarnya mengingat kami yang memang baru saja berdiri dan belum mempunyai buku yang telah kami terbitkan sebagai referensi untuk klien. Seringkali klien tak jadi menerbitkan naskahnya setelah tahu kami belum pernah menerbitkan buku sama sekali. Meskipun sudah kami sudah membuat promosi berupa diskon untuk 4 klien pertama, tetap saja hal itu kurang efektif.

Kami lalu meluncurkan sebuah e-book gratis yang naskahnya kami ambil dari para pemenang dan 20 besar lomba blog yang pernah kami adakan di akun pribadi. Tema blognya adalah tentang ulang tahun, maka e-book pertama itu kami beri nama Anugerah di Bulan Kelahiran. Alhamdulillah respon pembaca cukup bagus, banyak yang mendownloadnya.

Namun sayangnya, hal itu tetap saja tak mampu menarik klien untuk menerbitkan naskahnya di Mozaik. Sungguh sangat menguji mental kami. Sempat juga rasa putus asa datang menghampiri, untung saja saat itu kami nggak sampai banting setir berjualan keripik tempe😀

2. Nama Mozaik Publishing House ternyata sudah ada yang memakai. Ini ujian kedua yang cukup bikin pusing, apalagi penerbit yang memakai nama MPH itu sudah puluhan tahun umurnya. Posisi kami jelas lemah, meskipun penerbit itu berada di luar negeri namun kami tak mau ambil resiko. Akhirnya kami putuskan untuk mencari nama baru.

Mencari nama baru jelas bukan perkara yang mudah, emang sih kami belum menerbitkan buku namun kami sudah terlanjur jatuh cinta dengan nama Mozaik. Apalagi proses pemilihan nama Mozaik itu mempunya sejarah dan arti tersendiri bagi kami.

Lalu kami juga sedang mengadakan sayembara pembuatan logo, hal ini cukup bikin galau para peserta yang sudah terlanjur setor logo dengan nama MPH. Kami lalu mengambil kebijakan, logo untuk lomba tetap memakai nama MPH namun jika menang nanti harus diubah sesuai nama baru kami.

So…kami lalu gogling penerbit mana saja yang sudah memakai nama Mozaik. Ternyata banyak sekali Mozaiker, mulai dari Mozaik Publisher hingga Mozaik Books. Sempat juga kami mau memakai nama lain, misalnya yang kami ambil dari slogan kami: Berjiwa muda dan dinamis dalam berkarya, kami singkat menjadi Jimuserya. Tapi kok terdengar aneh sekali ya nama itu😀

Terimakasih kepada Mas Ranu yang bukan saja telah mengingatkan kami tentang nama MPH namun juga memberi ide nama baru buat kami: Mozaik Indie Publisher. Setelah kami gogling, Alhamdulillah belum ada yang memakainya. So kamipun mantab memakai nama Mozaik Indie Publisher.

3. Mencari percetakan yang harganya terjangkau dan kualitasnya bagus. Ini jelas tidak mudah, apalagi kami sebagai penerbit indie yang lemah di modal. Sudah belasan percetakan kami hubungi, baik di dalam maupun luar kota Malang, namun tak satupun yang harganya sesuai dengan target kami dan mau mencetak meski dalam jumlah yang sedikit. Untunglah ada teman yang sudah terlebih dahulu terjun di dunia indie, penerbitannya sudah memiliki mesin cetak sendiri bahkan mereka melayani percetakan meski hanya 1 eksemplar. Maka kami tak membuang tawaran yang bagus itu.

4. Akun kami di FB sempat dibanned dan dicurigai sebagai mesin oleh admin FB. Hal ini terjadi karena kami terlalu banyak mengirimkan undangan pertemana serta menyebar link blog kami. Sempat stress karena membayangkan kami harus memulai dari nol lagi untuk menjalin jaringan di dunia maya. Untunglah keberuntungan masih berpihak pada kami, besoknya akun kami kembali bias dipergunakan.

 

Awan gelap masih saja membayangi langkah kami, tak ada satupun klien yang berhasil kami dapatkan. Kebanyakan hanya bertanya ini-itu, sekedar survey harga.

Kami tak mau berputus asa, kami mencoba menarik para pembaca dengan mengadakan sebuag lomba yang bertajuk: Mozaik Blog Competition. Lomba ini kami adakan sekaligus untuk memperingati World Book Day yang jatuh pada tanggal 23 April. Alhamdulillah responnya cukup bagus, banyak yang mengikuti lomba ini meskipun hadiahnya tidak terlalu wah.

Titik terang mulai menyinari Mozaik ketika kami menerbitkan sebuah buku berjudul Puasa Pertamax. Naskah buku ini kami ambil dari lomba kami yang lain, kebetulan saat itu memasuki bulan Ramadhan sehingga kami memilih tema yang sesuai. Awalnya kami hanya berniat mencetaknya POD namun sebuah ide muncul kenapa tidak memcoba untuk mencari sponsor?

Memang terdengar sangat terlalu pede, portofolio belum ada tapi sudah nekat mencari sponsor. Ah sudahlah, apa salahnya sih dicoba. Kalaupun gagal tidak mengapa yang penting sudah dicoba. Ada tiga sampai empat perusahaan yang kami propose, mulai dari radio hingga perusahaan yang sekiranya mempunyai kolerasi dengan isi buku kami.

Alhamdulillah sebuah perusahaan besar bertaraf internasional yaitu Multiply yang membuka kantor baru di Indonesia, bersedia menjadi sponsor tunggal dalam penerbitan buku kami. Alasan mereka mau menjadi sponsor adalah ingin menunjukkan dukungan kepada blogger MP, kebetulan para kontributor Puasa Pertamax adalah para blogger MP.

 

Setelah Puasa Pertamax terbit, akhirnya ada klien yang mau mempercayakan naskahnya pada kami. Yang pertama ada Edi Natasuwarha, penyair yang menerbitkan kumpulan puisinya yang berjudul Rosalin’s Passion, disusul Rifki Hasan dengan novel islami: Perempuan Berjilbab Kuning, Dee An dan Lalu Abdul Fatah yang membukukan kumpulan kisah perjalanan bertema cinta: Love Journey, sebuah novel remaja Egi Anak Bau Kencur karya Rhegita Resih Kemuning. Ada juga proyek intern kami mulai dari kumcer Perempuan Kedua karya Mrs.Moza a.k.a Ivonie Zahra, buku antologi Pertamax Moment dan Carok serta novel karya Mr.Moz sendiri yaitu Partisi Hati.

Untuk lebih memantabkan langkah kami di dunia literasi, kami sudah melegalkan status Mozaik Indie Publisher di bawah naungan CV Mozaik Pratama. Dengan legalitas ini Insya Allah kami akan lebih mantab memberikan pelayanan kepada para penulis dan pembaca, mulai dari pengurusan ISBN hingga distribusi buku ke seluruh penjuru Indonesia.

Itulah sedikit kilas balik setahun perjalanan Mozaik Indie Publisher. Terimakasih yang tak terhingga kepada para sahabat, penulis, klien, sponsorship dan terutama Mozaiker. Tanpa dukungan dan doa kalian semua, kami tidak akan mampu berdiri hingga saat ini. Semoga hubungan dan kerjasama yang baik ini terus terjalin. Mari kita melangkah bersama menuju kesuksesan. Doakan agar kami mampu terus bertahan dan menjadi besar agar bisa mewujudkan lebih banyak lagi mimpi-mimpi penulis lainnya dan meramaikan dunia literasi Indonesia dengan buku-buku yang berkualitas dan menginspirasi banyak orang, aamiin.

Salam Literasi

 

Mozaik Team

 

 

About Mr. Moz

Berjiwa muda dan semangat dalam berkarya

9 responses »

  1. semangat…
    tahun ini pasti akan lebih baik….

  2. Terus semangat Mozaik.

    Semoga engkau menjadi tempat indah bagi para penulis.

    Doa kuat!

  3. omnduut says:

    Terus maju ya Mozaik🙂

  4. Dee An says:

    hahahaha.. untung gak jadi pake nama Jimuserya yaa…🙂
    tar followernya sebutannya jadi Jimusers… aduh, enggak banget kedengerannya..😀

    sukses terus ya Mozaik…
    alhamdulillah, di setahun pertamanya ini, ada 4 buku (plus 1 e-book) terbitan Mozaik yang mencantumkan namaku sebagai kontributor. dan 1 buku yang memajang namaku sebagai endorser. Moga selanjutnya bisa makin banyak yaaa…🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s