Memilih penerbit itu ibarat memilih pacar, kata Icha Rachmanti penulis best seller Cintapucino. Oleh karena itu penulis harus cari yang cocok dan nyambung untuk diajak bekerja sama.

Pun ketika ada seorang penulis bernama Sari Musdar berniat menerbitkan buku di Mozaik, maka kami sebagai calon pacar berusaha memberikan yang terbaik dan meyakinkannya bahwa dia tidak salah memilih kami. Ibarat sebuah pedekate, Mbak Sari curhat pada kami kalau novel yang akan diterbitkannya itu-yang berjudul Cinderella in Paris-sudah pernah diterbitkan penerbit lain dan menjadi best seller. Namun sayang penerbit itu berlaku curang, tidak memberikan laporan royalti yang memuaskan. Lalu juga Mbak Sari sebenarnya kurang sreg dengan covernya yang tidak mewakili isi cerita.

Mendengar penderitaan Mbak Sari, layaknya pria sejati yang mendengar curhat wanita patah hati maka kami menghibur, membesarkan hatinya dan berjanji akan memberikan yang terbaik untuk menghapus luka di hatinya, tsaaah.

Maka proses penerbitan pun dimulai. Yang pertama adalah pembuatan cover, kami menyediakan juga jasa editing tapi Mbak Sari memutuskan untuk mengedit sendiri naskahnya. Pembuatan cover sempat mengalami kendala terkait keinginan Mbak Sari untuk membuat cover dengan style Shoujo (komik cewek di Jepang) tapi dibuat lebih dewasa karena memang isi bukunya untuk kaum lajang/dewasa muda. Untungnya desainer cover kami, Mas Roel sangat handal dan bisa merealisasikan cover yang diinginkan Mbak Sari. Dengan telaten dan penuh kesabaran Mas Roel merevisi bagian-bagian yang kurang disukainya.

cinderella in paris revised dengan endorsement-01

Karena reputasi Mbak Sari Musdar yang sebelumnya pernah menerbitkan 2 buku di penerbit major dan statusnya sebagai traveller yang cukup terkenal dan dijuluki Fun Fearless Traveller oleh salah satu koran nasional maka kami pun berusaha semaksimal dan seprofesional mungkin menangani naskahnya. Mulai dari pengurusan ISBN, pemilihan percetakan yang bagus, pembukaan pre-order hingga lomba menulis bertajuk: Bukan Lajang Desperado berhadiah 2 buku Cinderella in Paris.

Layout naskah sudah jadi, kamipun menyerahkan kepada Mbak Sari untuk dikoreksi dulu sebelum naik cetak. Mbak Sari sendiri sudah mentransfer uang senilai 1 juta untuk DP penerbitan. Namun sayangnya ada kendala teknis yang dialami Mbak Sari, dimana laptopnya rusak sehingga koreksi naskah berjalan lambat padahal Mbak Sari sendiri menargetkan Cinderella terbit bulan Maret. Lalu Mbak Sari juga disibukkan dengan proyeknya yang menjadi guide untuk tour ke Eropa bagi sekelompok orang, mungkin para fansnya, kami tidak tahu. Kami pun berusaha memaklumi dan membantu mengedit bagian-bagian yang ternyata masih banyak salah, baik dari segi EYD maupun penggantian salah satu nama tokoh di dalamnya. Pihak percetakan sendiri juga beberapa kali bertanya tentang kejelasan proyek Cinderella.

Sampai kemudian, sebuah berita yang mengejutkan datang dari Mbak Sari. Dia memutuskan untuk membatalkan penerbitan Cinderella in Paris. Ada 2 alasan yang dia kemukakan pada kami, berikut kami copy-paste saja agar tidak menimbulkan ambigu:

1.   Siang ini saya dapat kabar buruk, ternyata visa ke 5 peserta Tour Eropa saya bermasalah, seharusnya DP mereka hangus, tetapi mereka menuntut DP dikembalikan padahal uang mereka (15 juta rupiah) sudah saya transferkan ke rekanan di Eropa akhir Januari 2013, saya juga tidak bisa minta uang tsb. Di lain pihak rekanan saya di Eropa meminta saya membayar penalty krn ke5 org tsb tdk jadi ikut karena tidak dpt visa dan karena menunggu visa mereka saya hrs menunda pembayaran yg seharusnya jatuh tempo 15 maret lalu.

2. Sementara itu saya terima email dr salah 1 penerbit, naskah Cinderella in Paris yg saya kirimkan 7 bulan lalu, masuk final, dan jika ingin terus masuk penjurian, saya harus meyakinkan mereka naskah ini tidak sedang diterbitkan oleh penerbit lain. Saya butuh uang hadiah dari sayembara ini untuk mengganti kerugian saya membayar uang DP 5 org peserta yg visanya bermasalah bukan karena kesalahan saya (karena koordinator di Makassar tidak mengurus visa sesuai time line) dan membayar penalti ke rekanan saya di Eropa.

Di satu sisi kami ikut prihatin dengan kerugian material yang dialami oleh Mbak Sari Musdar namun di sisi lain kami juga kecewa sekali dengan pembatalan yang sangat mendadak ini. Padahal naskah sudah tinggal menunggu koreksi sedikit, tinggal kirim balik ke percetakan untuk dicetak 500 eksemplar.

Pembatalan sepihak yang dilakukan Mbak Sari memang tidak sampai merugikan Mozaik secara materi namun kerugian immaterial sudah jelas terpampang di depan kami. Ibarat sebuah rencana pernikahan, kami sudah woro-woro ke seluruh penjuru dunia namun mendadak pernikahan itu dibatalkan oleh sang calon mempelai perempuan. Bisa dibayangkan rasa malu yang ditanggung oleh sang calon mempelai pria? Seperti itulah rasa malu yang ditanggung oleh Mozaik.

Belum lagi kami harus merevisi ulang aturan lomba Bukan Lajang Desperado yang mencantumkan novel Cinderella sebagai hadiahnya. Untung saja pemesan pre-order Cinderella tidak banyak dan baru satu yang transfer sehingga kami tidak sampai mengalami kesulitan.

Seakan belum cukup, pihak percetakan yang mengetahui pembatalan itu juga kecewa dan akhirnya memberikan teguran keras dan aturan baru pada kami bahwa untuk order selanjutnya kami harus memberikan DP sebagai tanda jadi. Jika proyek batal maka DP itu akan hangus. Kami hanya bisa pasrah, menerima hukuman atas kesalahan yang dilakukan oleh pihak lain. Mas Roel selaku pembuat cover Cinderella jelas juga kecewa karena hasil karya yang dia ciptakan dengan penuh citarasa seni akhirnya mubazir.

Aah, andaikan kami mempunya modal yang besar pasti akan kami tanggung biaya penerbitan Cinderella agar tidak makin banyak pihak yang kecewa. Tapi apalah daya, kami hanya penerbit indie yang mempunyai modal kecil. Kami mencoba mengajukan opsi pada Mbak Sari untuk menerbitkan Cinderella secara POD namun tak ada tanggapan. Di sinilah, uang menunjukkan kekuasaannya.

Okelah Mbak Sari, mungkin jodoh Cinderella in Paris dengan Mozaik hanya sampai di sini saja. Kami berusaha menerima dengan lapang dada dan ikhlas. Kalaupun sekarang kami mempublish masalah ini tidak ada maksud untuk memojokkan Mbak Sari namun sebagai bentuk pembelajaran bersama bahwa pembatalan sepihak (dalam hal apapun) efek merugikannya akan berdampak pada banyak pihak (quote komen Dee An). Juga sebagai pernyataan resmi dari kami karena masih ada peserta lomba Bukan Lajang Desperado yang tidak mengetahui bahwa Cinderella in Paris batal diterbitkan di Mozaik Indie Publisher.

Ada sisi baiknya juga laptop Mbak Sari tidak kunjung selesai diservis saat proses koreksi naskah kemarin sehingga naskah Cinderella tidak keburu dicetak 500 eksemplar. Tak terbayangkan bagaimana kami harus berbicara pada pihak percetakan tentang pembatalan itu dan uang dari mana yang kami pakai untuk menanggung biaya percetakannya. Sekali lagi, Allah masih menyayangi Mozaik sehingga tidak sampai harus menanggung kerugian yang banyak.

Ternyata dalam berbisnis kepercayaan saja tidak cukup, dibutuhkan sebuah kata bernama empati. Agar ketika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, kita tidak lari menyelamatkan diri sendiri namun berusaha menanggungnya bersama. Kami tidak sepenuhnya menyalahkan Mbak Sari Musdar yang lebih memilih untuk menerbitkan Cinderella di penerbit major, itu sepenuhnya hak Mbak Sari untuk mewujudkan mimpinya. Dan kami pun Insya Allah akan tetap tegap berdiri mewujudkan mimpi kami di dunia literasi.

Salam

Mozaik Team

About Mr. Moz

Berjiwa muda dan semangat dalam berkarya

19 responses »

  1. nyonyasepatu says:

    Wah😰, boleh di reblog mas?

  2. anotherorion says:

    eh tapi penyebutan nama terang penulis disini kok kesane gimana gitu wan, kecuali kasus sik wingi kae wajar

    • Mr. Moz says:

      sebenarnya kami juga sempat akan merahasiakan namun di blog dan FB sang penulis juga udah bikin pernyataan kok tentang pembatalan ini, jadi meski kami inisialkan akan percuma saja.

  3. tinsyam says:

    kalu udah jelas sama mbaksarinya gapapa tuh disebut nama.. toh ga ada yang samasama dirugikan materi.. immateri masih bisa buat pembelajaran..
    lain kali bikin surat pernyataan saja wan kalu ada pembatalan gimana aturan biar enak samasama.. dan samasama disepakati gitu..
    iya sih kalu udah beli tiket, eh visa ga turun, itu pernah daku alami, rugi bandar.. ribet ngurusnya.. tapi kalu tiket bisa diundur sampe visa turun tuh biar ga rugirugi amat, paling kena pinalti, cuma waktunya yang ga ada kali ya..

    • Mr. Moz says:

      Makasih Mbak atas nasihatnya, iya kami akan membuat aturan terkait jika ada pembatalan proyek agar kedua belah pihak sama-sama enak.
      Iya kami juga ikut prihatin dengan kasus yang dialami Mbak Sari, walaupun sebenarnya kami berharap Mbak Sari bisa lebih bijak dalam mengambil keputusan🙂

  4. […] Yah begitulah nggak jadi terbit cerita lengkapnya ada di blog mr Moz […]

  5. boemisayekti says:

    pembelajaran berharga buat Mozaik agar kedepannya lebih oke lagi dari berbagai segi terutama soal perjanjian kerjasama…

  6. Tulisan ini bagi saya kok aneh ya. Sebagai perusahaan, Mozaik harusnya telah memiliki gaya profesionalitas tersendiri. Salah satunya adalah manajemen resiko, termasuk pembatalan. MEmang disini tidak dikatakan pembatalan itu salah. Tapi konsep penulisan itu seakan-akan membuat bahwa dengan adanya pembatalan itu, jadi ada rasa tidak enak dengan bla bla bla. Profesionalitas itu telah menghandle rasa tidak enak-tidak enakan. Profesionalitas nanti diwujudkan dalam sebuah surat kontrak. Sehingga segala sesuatu yang terjadi bisa diacukan dari situ.

    Apalagi SDR Icha telah membayar 1 Juta sebagai DP, adalah uang panjar jika terjadi masalah yang berakhir dengan pembatalan. Batal itu HAK dari client. Apalagi client itu banyak ragam masalahnya. Kalau sudah didesainkan? Toh dia juga telah bayar panjar. Kalau saya jadi Icha, lihat tulisan ini, langsung saya sebar saja ke jaringan saya bahwa jangan menggunakan percetakan ini. Peace.. Kalau percetakan-percetakan yang sudah gede, gak bakal lah nulis seperti ini.

    Sodara-sodara di Mozaik, di dunia IT malah, teman teman desainer web itu tanpa bayar mau mendesainkan lebih dulu mokupnya. Layout + Desain Gambar Ilustrasi. Keren kan? Dan itu FREE. Mereka melakukannya sebagai bonus. Barangkali nih Mozaik akan melakukannya sebagai penglaris dengan gratis desain 1 halaman misal? Saya mau buat buku juga.. barangkali ketemu jodoh bisa nyetak disini?

    • Mr. Moz says:

      Di balasan komen kami untuk pembaca blog yang lain sudah kami utarakan jika dalam surat kontrak kami dengan Mbak Sari (ralat bukan Mbak Icha yang sepeti Mbak Jenar tulis) namun tidak ada point tentang pembatalan penerbitan. Di situ kami mengakui kelemahan kami sebagai penerbit yang baru setahun terjun di dunia penerbitan.

      Kami penerbitan Mbak, bukan percetakan. Untuk pncetakan buku2 kami selama ini kami menggunakan jasa percetakan yang lain. Nah masalahnya, dengan pembatalan ini yang kena dampak bukan kami saja tapi partner percetakan kami.

      Setiap pebisnis punya style dan cara sendiri2 untuk menarik konsumen, jadi itu hak masing-masing mau pakai cara seperti apa asalkan tidak merugikan.
      Kalau kami mohon maaf tidak bisa seperti itu, kalau klien ingin tahu contoh desain maka akan kami tunjukkan portofolio cover2 buku Mozaik yang sudah terbit. Kami masih junior jadi tidak berani ambil resiko n tenaga2 desainer kami juga tidak mau memakai cara seperti itu.
      Kalau MBak Jenar mau nerbitin di Mozaik monggo, minta desain gratis 1 halaman? itu sih bisa, cuma halaman bukunya kan bukan cover? He3

  7. jampang says:

    semoga akan ada gantinya yang lebih baik… aamiin

  8. elam says:

    Tetap semagnat mas🙂

  9. joaquinphi@yahoo.com says:

    setahu saya, Mbak Sari mengikutkan naskah ini di sayembara Gramedia, dan menang!!🙂. Jadi apakah ada kaitannya dgn ini sehingga beliau buru2 membatalkan? hihihii. Di dunia ini selalu ada yg baik dan buruk. Selama ini yg terjadi di dunia penulisan, yang ter-blow up adalah penerbit yg curang. Tetapi jarang sekali ter-blow penulis yang curang.

    Buat Mozaik, semangaat yak!! semoga tetep sukses.

    • Mr. Moz says:

      Iya salah satu penyebabnya juga hal itu. Sebenarnya memang hak beliau untuk mengikutkan naskahnya di sayembara namuan Mbak Sari seharusnya secara etika menyebutkan hal tersebut di awal proyek sehingga saat terjadi hal seperti ini kami bisa mengantisipasi.
      Ya itulah, makanya kami putuskan untuk mengangkat kasus ini agar mata masyarakat bisa terbuka bahwa siapa saja bisa melakukan hal yang merugikan dan bisa jadi pelajaran bersama.
      Makasih, iya kami tetap semangat kok.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s