Saat menilai naskah-naskah yang masuk dalam event menulis yang kami selenggarakan beberapa waktu yang lalu, seperti Pertamax Moment, Carok, My Wedding Story dll, kami menemui naskah-naskah yang sebenarnya menarik namun karena ditulis dengan seenaknya sehingga mengurangi nilainya di hadapan Mozaik Team.

Nah kali ini ada beberapa masukan yang ingin kami sampaikan sebagai bahan evaluasi bagi para Mozaiker jika mengikuti event kami selanjutnya agar naskah kalian terlihat lebih menarik dan memikat hati Mozaik Team.

1. Beri jeda dalam tulisanmu.

Memang benar ketika menulis kita disarankan untuk menulis tanpa beban, keluarkan semua yang ada di pikiran dan benak kita agar bisa menghasilkan tulisan yang mengalir. Namun tulisan mengalir yang tanpa jeda sama sekali ibarat serbuan air bah yang akan membuat pembaca tersedak.

Jeda yang saya maksud adalah paragraf. Satu paragraf idealnya terdiri antara tiga sampai tujuh kalimat, apalagi untuk ukuran sebuah buku. Paragraf yang panjang dan bertele-tele akan membuat pembaca terengah-engah mengikuti jalannya cerita. Menulis narasi memang bagus, namun tak ada salahnya membuat paragraf pendek yang terdiri atas dua-tiga kalimat untuk memberi waktu bagi pembaca untuk sekedar menarik nafas.

Cara lain untuk memberi jeda adalah dengan membuat sub judul. Misalnya kalian akan bercerita tentang kisah pernikahan, maka buatlah sub-sub judul mulai dari awal perkenalan, hubungan menuju tahap yang serius, lamaran/khitbah, persiapan dan ujian menuju pernikahan dan endingnya adalah bersatunya dua sejoli dalam mahligai pernikahan.

Pembuatan sub judul ini tidak harus ketika kalian sedang dalam proses mengetik. Buat saja setelah kalian selesai mengetik, kalian coba cermati bagian-bagian mana yang sudah terlalu panjang atau sudah berganti topik. Kalau pergantian topiknya nggak ada, kalian bisa buat jeda ketika berganti setting tempat atau waktu.

Jeda ini berlaku untuk semua jenis naskah, baik itu fiksi maupun non fiksi. Percaya deh, naskah kalian akan lebih menarik dengan jeda-jeda yang tepat di dalamnya.

2. Tulis sesuai gaya lo tapi jangan semau gue.

Kami menghargai gaya menulismu tapi please jangan semau gue nulisnya. Yang saya maksud dengan semau gue itu tidak memperhatikan EYD, penggunaan huruf besar-kecil dan tanda baca.

Mengingat naskah kalian akan diproses menjadi sebuah buku maka akan lebih baik jika kalian mengetiknya dengan format justify alias rata kiri dan kanan.

Okelah memang tugas editor untuk mengedit itu semua namun alangkah bagusnya jika untuk masalah teknis seperti itu sudah dibenahi sendiri oleh penulis sehingga proses penilaian naskah menjadi lebih mudah dan cepat.

Hal seperti ini memang terlihat sepele namun jika tidak diperhatikan akan member nilai minus pada naskahmu. Ingat, saingan kalian nggak hanya satu dua. Kami akan lebih memilih membaca dulu naskah-naskah yang ditulis dengan baik, sesuai EYD dan tidak bikin sakit mata.

 3. Endapkan Terlebih Dahulu

Ketika kamu selesai menulis naskahmu, jangan langsung mengirimkannya kepada kami. Tinggalin dan cuekin dulu naskahmu itu. Kamu perlu mengendapkannya dan beri waktu kepada dirimu sendiri untuk merefresh pikiran dan tenaga.

Tujuannya apa? Agar kamu bisa bersikap objektif ketika akan mengeditnya. Naskah kalian perlu diedit, dimatangkan terlebih dahulu baik dari segi cerita maupun teknik menulisnya.

Ada baiknya juga selama masa pengendapan itu kalian minta tolong kepada temen-temenmu yang berkompeten untuk membaca dan memberikan masukan. Jadi ketika kalian akan mengeditnya sudah banyak bahan editan dan koreksi yang bisa kalian pergunakan guna membuat naskahmu jauh lebih baik.

Itulah sebabnya kenapa kami biasanya memberi peringatan agar jangan suka mengirimkan naskah mendekati deadline. Yakin deh pasti nggak akan sempat untuk mengendapkannya apalagi mengedit. Begitu ada event yang dimulai, segera cari tema dan ide yang menarik. Begitu feel-nya udah dapat langsung tulis, jangan ditunda-tunda.

Mengirimkan naskah mendekati deadline juga member keuntungan bagimu, naskah kalian akan bisa dibaca dengan tenang oleh Team Mozaik.

4. Biodata narasi

Sampai sekarang masih ada aja lho yang nggak tahu yang dimaksud bioadata narasi itu kayak gimana?

Okey deh, kami akan coba jelaskan.

Biodata narasi itu adalah biodata yang ditulis dengan gaya naratif (bercerita). Jadi bukan yang resmi kayak ngasih biodata di formulir atau CV lamaran kerja.

Lalu apa saja sih yang ditulis di biodata narasi?

Kalian boleh menuliskan secara lengkap nama, tanggal lahir bahkan alamat rumah kalian. Tapi itu udah terlalu umum. Bikin yang unik dan beda dari yang lain.

Kalo Mr.Moz biasanya menyesuaikan dengan tema buku yang sedang ditulis.

Misalnya untuk buku Love Journey yang bertema travelling, Mr.Moz bikin biodata narasi yang berbau-bau travelling juga seperti ini:

Ihwan Hariyanto. Penulis asli Malang ini sebenarnya hobi jalan-jalan dan bertualang, tapi karena punya hobi ‘sampingan’ mabuk perjalanan, akhirnya hanya bisa jadi backpacker wannabe. Dalam artian, hanya berani pergi ke tempat yang tidak terlalu jauh dari rumahnya. Sampai sekarang tempat paling jauh yang pernah dia singgahi adalah Jakarta. Tapi, suatu hari nanti, Ihwan pengin juga bisa backpacking ke luar negeri. Aamiin.

Untuk buku Book Junkies yang bertema tentang buku, Mr.Moz bikin biodata narasi yang berbeda juga, mengikuti temanya:

Ihwan Hariyanto, membaca selalu ditulisnya setiap kali mengisi kolom hobby. Tak heran jika perpustakaan dan toko buku menjadi tempat favoritnya sampai sekarang. Pernah ditegur dan dihafal oleh pegawai toko karena seringnya baca gretongan di rak, merasa beruntung karena kini bekerja di sebuah perpustakaan. Dua buku solo dan beberapa antologi sudah ditulisnya dan kini melalui Mozaik Indie Publisher dia berharap bisa memberikan sumbangsih yang lebih besar untuk dunia literasi Indonesia.

So…udah nggak bingung lagi kan dengan yang namanya biodata narasi.

Mungkin ada yang berpikiran kayak gini: “Duh kok kayaknya ribet banget sih ngirim naskah atau ikutan event di Mozaik? Pakai diatur-atur segala. Males deh.”

Eaaa, kalau kalian sendiri saja sudah malas memoles naskah kalian jangan pernah berharap orang lain akan membaca naskahmu. Kalian nerbitin buku agar lebih banyak orang yang membaca dan mengambil manfaat dari tulisan kalian kan?

Jangan pernah berpikir bahwa karena ini dunia indie maka kita bisa nulis naskah seenaknya saja, nggak memperhatikan kenyamanan pembaca, EYD dan lain-lain. Justru karena kita indie, maka kita harus buktikan bahwa kualitas naskah kita tidak kalah dengan naskah-naskah yang diterbitkan oleh penerbit major.

Baik major maupun indie sebenarnya sama saja, kita dituntut untuk menulis naskah yang berkualitas dan menarik!

Salam

 

 

Mozaik Team

 

*thaks to Dee An yang udah kasih tambahan ide.

 

About Mr. Moz

Berjiwa muda dan semangat dalam berkarya

4 responses »

  1. ryan says:

    sebenarnya berlaku juga untuk yang memang ingin mengirimkan naskah untuk penerbitan buku di mana pun kan?

  2. Dee An says:

    makasih sharingnya Mr. Moz…🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s