Ketika kita memutuskan untuk menerbitkan buku secara indie maka salah satu aspek yang harus kita persiapkan adalah biaya penerbitan buku.
Kalau hanya cetak secara POD (Print On Demand) biaya yang kita butuhkan relative kecil, bahkan mungkin tidak ada biaya. Kenapa bisa begitu? Iya dong, kan buku kita dicetak kalau ada yang pesan saja. Paling-paling sama penerbit indienya, kita hanya diwajibkan cetak 1 kali saja sebagai tanda persetujuan cetak.
Lalu bagaimana kalau pengin cetak banyak?
Nah Mr.Moz mau berbagi sedikit pengalaman bagaimana cara mencari dana untuk menutup biaya cetak buku secara massal.
1.    Menabung
Iya, ini adalah cara paling rasional yang pertama kali kami sarankan. Kalau kita bisa menabung untuk membeli gadget, motor atau rumah, kenapa kita tidak bisa menabung untuk membiayai penerbitan buku kita sendiri? Malah sebenarnya menabung untuk nerbitin buku adalah investasi paling menguntungkan dibandingkan bentuk-bentuk investasi lainnya.
Kok bisa begitu? Iya doong, dengan menerbitkan buku maka kamu udah mengabadikan namamu. Ketika kamu nanti sudah meninggal, buku yang kamu tulis menjadi bukti keberadaanmu di muka bumi ini. Bukumu juga menjadi warisan dan kebanggaan bagi anak cucumu, apalagi kalau bukumu nanti menjadi best seller.  Bukan hanya namamu yang abadi tapi kamu juga akan mendapatkan royalty dari penjualan bukumu. Dan uang tabungan yang sudah kamu pakai untuk mencetak buku sudah pasti balik.
2.    Patungan
Kalau bukumu adalah karya kroyokan atau antologi kamu bisa mengajak para kontributor untuk patungan.  Tentukan dulu kalian mau cetak berapa, trus hunting deh percetakan atau penerbitan dengan biaya termurah namun tetap berkualitas (Mozaik contohnya he he he). Setelah total biaya cetaknnya ketemu, kamu bagi deh dengan jumlah kontributornya.  Cara patungan inilah yang dipakai oleh Dee An dan Lalu Abdul Fatah ketika menerbitkan Love Journey di Mozaik.
Karena ini patungan maka semua pengeluaran dan hasil penjualan nanti harus dishare kepada semua contributor. Asas keadilan dan kejujuran harus benar-benar dilaksanakan, agar tidak ada pihak-pihak yang merasa dirugikan. Kalau proyek patungan kalian sukses, kalian bisa mencetak ulang buku kalian atau memulai proyek baru yang lainnya.
3.    Investor/Sponsor
Jaman sekarang, seorang penulis nggak hanya dituntut untuk bisa menulis. Tapi dia juga harus bisa marketing hasil karyanya. Kemampuan ini dibutuhkan ketika kalian berniat mencari investor atau sponsor untuk penerbitan buku kalian.
Untuk mencari sponsor ini gampang-gampang susah ya.  Gampangnya adalah banyak sasaran yang bisa kita bidik, misalnya untuk buku pernikahan kalian bisa membidik brand make-up, jasa wedding organizer untuk menjadi sponsor. Kalau bukumu tentang kesehatan kalian bisa membidik produsen obat-obatan, kalau buku travelling kalian bisa membidik agen atau biro travelling.
Sedangkan untuk investor tergantung kejelian kalian untuk mencari siapa gerangan di antara kenalan kalian yang punya potensi untuk jadi investor. Bahasa lugasnya sih cari teman kalian yang udah kelebihan duit he he he plus punya interest terhadap dunia literasi juga.
Trus susahnya dimana? Susahnya adalah bagaimana kita bisa meyakinkan mereka bahwa buku yang kita tawarkan itu mempunyai nilai jual yang tinggi dengan nilai profit yang besar. Profit ini nggak hanya sekedar uang aja sih tapi juga bisa berupa keuntungan non material.
Sebagai contoh buku Puasa Pertamax yang disponsori oleh Multiply Indonesia. Kami memberanikan diri mengajukan proposal ke mereka karena kontributor buku PP adalah para blogger Multiply. Alhamdulillah pihak MI mau mensponsori sebagai bentuk nyata dukungan mereka kepada para blogger.

Mozaik juga mempunyai investor dari per orangan, mayoritas dari orang-orang dekat Mr.Moz. Buku Mozaik yang dapat investor contohnya: Carok dan My Wedding Story (segera terbit) Kalau untuk yang satu ini sebenarnya juga masih masih misteri kenapa mereka mau menjadi investor Mozaik.  Kalau boleh menebak, mungkin salah satu faktornya adalah kepercayaan. Kepercayaan itu adalah salah satu modal utama di dalam berbisnis, dengan adanya kepercayaan orang tak ragu untuk bekerja sama dengan kita. Tsaah udah kayak pebisnis yang sukses aja neh gayanya.
Perbedaan antara investor dan sponsor terletak pada kompensasi yang kita berikan atas dana yang mereka kucurkan pada proyek kita. Kalau investor kompensasinya adalah pengembalian dana dan bagi hasil keuntungan. Sedangkan sponsor kompensasinya adalah berupa pencantuman logo/merk di buku. Tempatnya bisa di cover depan atau belakang atau bisa juga di dalam buku, tergantung nilai sponsor yang mereka berikan. Ini nanti kalian atur sendiri di dalam proposal pengajuan sponsor kalian.
4.    Donatur
Kalau pengin cari dana yang nggak pakai kompensasi ada nggak Mr.Moz?
Ada, cari aja donatur. Namanya aja donatur, jadi mereka memberi dana dengan sukarela tanpa ada kewajiban bagi kita untuk mengembalikan. Tapi biasanya sebagai bentuk terimakasih kita bisa memberikan reward, bisa berupa buku kita atau merchandise seperti kaos, mug dan lain-lain.
Sekarang ini di internet sudah banyak situs-situs penggalangan dana secara massal. Kalau situs lokal, contohnya wujudkan.com dan patungan.net. Di dua situs ini, banyak sekali proyek-proyek kreatif anak bangsa yang bersaing meraih simpati para donatur untuk membantu proyek mereka. Nggak usah gengsi ngajuin proyek bukumu di sini, Mira Lesmana dan Riri Riza aja memakai situs wujudkan.com untuk penggalangan dana film mereka Atambua 39 Celsius. Mau tau biaya yang berhasil mereka kumpulin? 313 Juta!
Kalau dana sebesar itu aja bisa, apalagi kalau untuk dana cetak buku yang jauuh di bawahnya. Pasti juga bisa.
Wah mereka kan udah punya nama? Beda ama kita yang bukan siapa-siapa.
Deuuh, jangan keburu pesimis gitu dong. Yang penting itu usaha dulu. Ada kok contoh proyek buku yang sukses menggalang dana di sana, sebut saja Buku Sukarni dan Actie Rengasdengklok (wujudkan.com) dan Na Willa: Catatan Hari Kemarin (patungan.net). Dan Alhamdulillah salah satu buku Mozaik juga sukses mendapatkan dana di wujudkan, judulnya Book Junkies yang akan kami launching bulan ini.
So..nggak perlu putus asa dan bingung mencari dana untuk membiayai penerbitan buku indiemu.

Silakan kalian coba beberapa alternative cara yang udah kami jabarkan di atas. Yang penting adalah kita mau mencoba dan berusaha terlebih dahulu. Percaya deh, Allah nggak akan menutup mata melihat usaha kita. Pasti Dia akan memberi pertolongan dari jalan yang tidak pernah kita duga.

Salam

 

Mozaik Team

 

About Mr. Moz

Berjiwa muda dan semangat dalam berkarya

7 responses »

  1. Dee An says:

    Nice tips. Suwun, Mr. Moz….

  2. Ira says:

    Modal buku pertama saya dari ngumpulin honor nulis di media massa.🙂

  3. Ira says:

    Pertama, lakukan riset pasar. Kenalan dengan media yang mau dikirimi artikel. Surat kabar rata-rata sudah punya laman lengkap. Epaper pun banyak yang gratis. Kalau majalah, coba cari bekas. Jika punya ipad/iphone atau smartphone/pc tablet berbasis android bisa pakai aplikasi scoop atau wayang force. Banyak majalah/tabloid yang bisa diunduh gratis dari aplikasi itu.
    Pelajari isinya, gaya penulisan artikel yang dimuat, berusaha ‘reading between lines’. Selain itu gali informasi dari teman yang tulisannya sudah pernah dimuat di media tersebut. Minta tips2nya. Kalau perlu kirim surel ke redaksi. Tanya langsung, naskah bagaimana yang mereka suka. Banyak editor media tak mau balas email. Namun ada beberapa media besar saya temukan, redakturnya lebih ramah menjawab aneka pertanyaan. Syarat-syarat penerimaan artikel mereka berikan secara detail.
    Setelah itu, tinggal menulis artikel sesuai hasil riset. Bikin riset lebih banyak lagi buat bahan tulisan. Cari sudut pandang unik. Kalau nulis kisah perjalanan kayak saya, foto sangat esensial. Jadi jangan lupa bawa kamera kemana-mana. Surat kabar tak terlalu memperhatikan resolusi foto. Sebaliknya majalah dan tabloid tertentu mau foto dengan resolusi tinggi.
    Itu hal-hal yang saya praktikkan selama ini. Tak semua langsung berhasil dimuat pada pengiriman pertama. Apalagi jika belum kenal redakturnya. Kalau sudah kenal dan tahu seleranya, artikel berikutnya bisa melenggang dan nangkring di salah satu halaman media. hehe.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s